Agama Langit dan Agama Bumi: Dikotomi Tak Tahu Diri
Ada berbagai cara menggolongkan agama-agama dunia. Ernst Trults seorang teolog Kristen menggolongkan agama-agama secara vertikal: pada lapisan paling bawah adalah agama-agama suku, pada lapisan kedua adalah agama hukum seperti agama Yahudi dan Islam; pada lapisan ketiga, paling atas adalah agama-agama pembebasan, yaitu Hindu, Buddha dan karena Ernst Trults adalah seorang Kristen , maka agama Kristen adalah puncak dari agama-agama pembebasan ini.
Ram Swarup, seorang intelektual Hindu dalam bukunya ; “ Hindu View of Christianity and Islam” menggolongkan agama menjadi agama-agama kenabian (Yahudi, Kristen dan Islam) dan agama-agama spiritualitas Yoga (Hindu dan Buddha) dan mengatakan bahwa agama-agama kenabian bersifat legal dan dogmatik dan dangkal secara spiritual, penuh klaim kebenaran dan yang membawa konflik sepanjang sejarah. Sebaliknya agama-agama Spiritualitas Yoga kaya dan dalam secara spiritualitas dan membawa kedamaian.
Ada yang menggolongkan agama-agama berdasarkan wilayah dimana agama-agama itu lahir, seperti agama Semitik atau rumpun Yahudi sekarang disebut juga Abrahamik (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama-agama Tim u r (Hindu, Buddha, Jain, Sikh, Tao, Kong Hu Cu, Sinto).
Ada pula yang menggolongkan agama sebagai agama langit (Yahudi, Kri s ten, dan Islam) dan agama bumi (Hindu, Buddha , dll) Penggolongan ini paling disukai oleh orang-orang Kristen dan Islam, karena secara implisit mengandung makna tinggi rendah, yang satu datang dari langit, agama wahyu, buatan Tuhan, yang lain lahir di bumi, buatan manusia. Penggolongan ini akan dibahas secara singkat di bawah ini.
Agama bumi dan agama langit.
Dr. H.M . Rasjidi, dalam bab Ketiga bukunya “Empat Kuli y ah Agama Islam Untuk Perguruan tinggi” membagi agama-agama ke dalam dua kategori besar, yaitu agama-agama alamiah dan aga m a-agama samawi. Agama alamiah adalah agama budaya, agama buatan manusia. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah agama Hindu dan Bud h a. Mengenai agama Hindu Rasjidi mengutip seorang teolog Kristen, Dr. Harun Hadiwiyono, Rektor Sekolah Tinggi Theologia “Duta Wacana” di Yogyakarta sebagai berikut:
“Sebenarnya agama Hindu itu bukan agama dalam arti yang biasa. Agama Hindu sebenarnya adalah satu bidang keagamaan dan kebudayaan, yang meliputi jaman sejak kira-kira 1500 S.M hingga jaman sekarang. Dalam perjalanannya sepanjang abad-abad itu, agama Hindu berkembang sambil berobah dan terbagi-bagi, sehingga agama ini memiliki ciri yang bermacam-macam, yang oleh penganutnya kadang-kadang diutamakan, tetapi kadang-kadang tidak diindahkan sama sekali. Berhubung karena itu maka Govinda Das mengatakan bahwa agama Hindu itu sesungguhnya adala h satu proses antropologis, yang hanya karena nasib baik yang ironis saja diberi nama agama.” 1)
Samawi artinya langit. Agama samawi adalah agama yang berasal dari Tuhan (yang duduk di kursinya di langit ketujuh, Sky god, kata Gore Vidal). Yang termasuk dalam kelompok ini adalah agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Dalam bab Keempat dengan judul “Agama Islam a dalah Agama Samawi Terakhir” Rasjidi dengan jelas menunjukkan atau menempatkan Islam sebagai puncak dari agama langit. Hal ini dapat dipahami karena Rasjidi bukan saja seorang guru besar tentang Islam, tetapi juga seorang Muslim yang saleh.
Bahkan dengan doktrin mansukh, pembatalan, para teolog dan ahli fikih Islam mengklaim, Qur’an sebagai wahyu terakhir telah membatalkan kitab-kitab suci agama-agama sebelumnya (Torah dan Injil).
Bila Tuhan yang diyakini oleh ketiga agama bersaudara ini adalah satu dan sama, pendangan para teolog Islam adalah logis. Tetapi disini timbul pertanyaan, apakah Tuhan menulis bukunya seperti seorang mahasiswa menulis thesis? Sedikit demi sedikit sesuai dengan informasi yang dikumpulkannya, melalui percobaan dan kesalahan, perbaikan, penambahan pengurangan, buku itu disusun dan disempurnakan secara perlahan-lahan?
Tetapi ketiga agama ini tidak memuja Tuhan yang satu dan sama. Masing-masing Tuhan ketiga agama ini memiliki asal-usul yang berbeda dan karakter yang berbeda. Yahweh berasal dan ajudan dewa perang, yang kemungkinan berasal dari suku Midian, dan dijadikan satu-satunya Tuhan orang Israel oleh Musa. Jesus salah seorang dari Trinitas, adalah seorang pembaharu agama Yahudi yang diangkat menjadi Tuhan oleh para pendiri Kristen awal. Allah adalah dewa hujan yang setelah digabung dengan dewa-dewa lain orang Arab dijadikan satu-satunya tuhan orang Islam oleh Muhammad. Jadi Yahweh, Trinitas dan Allah adalah tuhan-tuhan yang dibuat manusia. 2) (Lihat Karen Amstrong: A History of God).
Dan karakter dari masing-masing Tuhan itu sangat berbeda. Ketiganya memang Tuhan pencemburu, tetapi tingkat cemburu mereka berbeda. Yahweh adalah Tuhan pencemburu keras, gampang marah, dan suka menghukumi pengikutnya dengan kejam, tetapi juga suka ikut berperang bersama pengikutnya melawan orang-orang lain, seperti orang Mesir, Philistin dan Canaan. Jesus juga Tuhan pencemburu, tapi berpribadi lembut, ia memiliki banyak rasa kasih, tetapi juga mempunyai neraka yang kejam bagi orang-orang yang tidak percaya padanya. Allah lebih dekat karakternya dengan Yahweh, tetapi bila Yahweh tidak memiliki neraka yang kejam, Allah m e milikinya. Di samping itu, bila Yahweh menganggap orang-orang Yahudi sebagai bangsa pilihannya, Allah menganggap orang-orang Yahudi adalah musuh yang paling dibencinya.
Jadi jelaslah di langit-langit suci agama-agama rumpun Yahudi ini terdapat lima oknum Tuhan yang berbeda-beda, yaitu Yahweh, Trinitas (Roh Kudus, Allah Bapa dan Tuhan Anak atau Jesus) dan Allah Islam. Masing-masing dengan ribuan malaikat dan jinnya.
Pengakuan terhadap Tuhan yang berbeda-beda tampaknya bisa menyelesaikan masalah soal pembatalan kitab-kitab atau agama-agama sebelumnya oleh agama-
agama kemudian atau agama terakhir. Masing-masing Tuhan ini memang menurunkan wahyu yang berbeda, yang hanya berlaku bagi para pengikutnya saja. Satu ajaran atau satu kitab suci tidak perlu membatalkan kitab suci yang lain.
Tetapi disini timbul masalah lagi. Bagaimana kedudukan bagian-bagian dari Perjanjian Lama yang diterima atau diambil oleh Perjanjian Baru? Bagaimana kedudukan bagian-bagian Perjanjian L ama dan P erjanjian B aru yang terdapat di dalam A l-Qur’an? Apakah bagian-bagian itu dipinjam da ri Tuhan yang satu oleh Tuhan yang lain, yang ada belakangan? Atau persamaan itu hanya kebetulan? Ataukah para penulis kitab-kitab yang belakangan meminjamnya dari penulis kitab-kitab terdahulu?
Pembagian agama menjadi agama bumi dan agama langit, dari sudut pandang Hindu sebenarnya tidak menjadi masalah. Ini terkait dengan konsep ketuhanan dari masing-masing agama. Agama-agama Abrahamik atau Rumpun Yahudi (nama yang lebih tepat daripada “agama langit”) memandang Tuhan sebagai sosok berpribadi, seperti manusia, yang berdiam di langit (ke tujuh) duduk di atas kursinya, yang dipikul oleh para malaikat. Dari kursinya di langit itu Dia melakukan segala urusan, termasuk antara lain, tetapi tidak terbatas pada, mengatur terbit dan tenggelannya matahari, “menurunkan” wahyu dan lain sebagainya. Dari segi ini benarlah sebutan “agama langit” itu, karena ajarannya diturunkan oleh Tuhannya yang bermukim nun jauh di langit.
Dalam pandangan agama Hindu, Tuhan bersifat panteistik, yang melingkupi ciptaan (imanen) dan sekaligus di luar ciptaannya (transenden) . Menurut pandangan Hindu Tuhan tidak saja lebih besar dari ciptaannya, tetapi juga dekat dengan ciptaannya. Kalau Tuhan hanya ada di satu tempat di langit ketujuh, berarti Ia ada di satu noktah kecil di dalam ciptaannya. Oleh karena itu Dia tidak Mahabesar. Agak mirip dengan pengertian ini, di dalam agama Hindu, dikenal ajaran tentang Avatara, yaitu Tuhan yang menjelma menjadi mahluk, yang lahir dan hidup di bumi – seperti Rama dan Krishna – menyampaikan ajarannya di bumi langsung kepada manusia tanpa perantara.
Dari segi ini, dikotomi agama langit dan agama bumi tidak ada masalah. Baru menjadi masalah ketika “truth claim” yang menyertai dikotomi ini. Bahwa agama langit lebih tinggi kedudukannya dari agama bumi; karena agama-agama langit sepenuhnya merupakan bikinan Tuhan, yang tentu saja lebih mulia, lebih benar, dari agama-agama bumi yang hanya buatan manusia dan bahwa oleh karenanya kebenaran dan keselamatan hanya ada pada mereka. Sedangkan agama-agama lain di luar mereka adalah palsu dan sesat.
Pandangan “supremasis” ini membawa serta sikap “triumpalis”, yaitu bahwa agama-agama yang memonopoli kebenaran Tuhan ini harus menjadikan setiap orang sebagai pengikutnya, menjadikan agamanya satu-satunya agama bagi seluruh umat manusia, dengan cara apapun. Di masa lalu “cara apapun” itu berarti kekerasan, perang, penaklukan, penjarahan, pemerkosaan dan perbudakan atas nama agama.
Masalah wahyu
Apakah wahyu? Wahyu adalah kata-kata Tuhan yang disampaikan kepada umat manusia melalui perantara yang disebut nabi, rasul, prophet. Bagaimana proses penyampaian itu? Bisa disampaikan secara langsung, Tuhan langsung berbicara kepada para perantara itu, atau satu perantara lain, seorang malaikat menyampaikan kepada para nabi; atau melalui inspirasi kepada para penulis kitab suci. Demikian pendapat para pengikut agama-agama rumpun Yahudi.
Benarkah kitab-kitab agama Yahudi, Kristen dan Islam, sepenuhnya merupakan wahyu Tuhan? Bila benar bahwa kitab-kitab ini sepenuhnya wahyu Tuhan, karena Tuhan Maha Tahu dan Maha Sempurna, maka kitab-kitab ini sepenuhnya sempurna bebas dari kesalahan sekecil apapun. Tetapi Studi kritis terhadap kitab-kitab suci agama-agama Abrahamik menemukan berbagai kesalahan, baik mengenai fakta yang diungkapkan, yang kemudian disebut ilmu pengetahun maupun tata bahasa. Berikut adalah beberapa contoh.
Pertama, kesalahan mengenai fakta.
Kitab-suci kitab-suci agama in i, menyatakan bumi in i datar seperti tikar, dan tidak stabil. Supaya bumi tidak goyang atau pergi ke sana kemari, Tuhan memasang tujuh gunung sebagai pasak. Kenyataa nn ya bumi in i bulat seperti bola. Dan sekalipun ada banyak gunung, lebih da ri tujuh, bumi te ta p saja bergoyang, karena gempat.
Ked u a, kontradiksi- kontradiksi.
Banyak terdapat kontradiksi - kontradiksi intra maupun anta r kitab suci - kitab suci agama-agama in i. Satu contoh tentang anak Abraham yang dikorbankan sebagai bukti ketaatannya kepada Tuha n (Yahweh atau Allah). Bible mengatakan yang hendak dikorbankan adalah Isak, anak Abraham dengan Sarah, istrinya yang sesama Yahudi. Sedangkan Qur’an mengatakan bukan Isak, tetapi Ismail, anak Ibrahamin dengan H agar, budak Ibrahim yang asal Mesir
Contoh lain. Bible menganggap Jesus sebagai Tuhan (Putra), seangkan Qur’an menganggap Jesus (Isa) hanya sebagai nabi, dan bukan pula nabi terakhir yang menyempurnakan wahyu Tuhan.
Ketiga, kesalahan strukt u r kali m at atau tata b ahasa.
Di dalam kitab-kitab suci in i terdapat doa-doa, kisah-kisah, b erita - berita tentang kegiatan Tuhan, mirip seperti berita surat kabar, yang ditulis oleh seseorang (wartawan) atas seseorang yang lain (da ri obyek be r ita, dalam hal in i Tuhan). Lalu ada kalimat yang merujuk Tuhan sebagai “Aku, Kami, Dia, atau nama-namanya
s e ndiri, seperti Allah, Yahweh , dl l ”. Mengapa Tuhan menunjukkan diriNya dengan Dia, kata ganti ketiga? Kata - kata atau kalimat-kalimat pe j oratif seperti Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui in i pastilah dibuat ol e h manusia, sebab mustahil rasanya Tuhan memuji-muji dirinya sendiri.
Keempat, ajaran tentang kekerasan dan kebencian.
Di dalam kitab-suci kitab-suci agama-agama langit in i banyak terdapat ajaran-ajaran tentang kebencian terhadap komunitas lain, baik karena kebangsaan maupun keyakinan. Di dalam Perjanjian Lama terdapat kebencian terhadap orang Mesir, Philistin, Canaan dll. Di dalam Perjanjian Baru terdapat ajaran kebencian terhadap orang Yahudi dan Roma. Di dalam Qur’an terdapat ayat - ayat kebencian terhadap orang-orang Yahudi, Kristen dan pemeluk agama - agama lain yang dicap kafir secara sepihak. Pertanyaan atas soal in i , betulkah Tuhan menurunkan wahyu kebencian terhadap sekelompok orang yang memujanya dengan cara berbeda-beda, yang mungkin sama baiknya atau bahkan lebih baik secara spiritual? Bukankah akhirnya ajaran - ajaran kebeneian in i menjadi sumber kekerasan sepanjang massa?
Bagaimana mungkin Tuhan yang Maha Bijaksana, Maha Pengasih dan Penyayang m e nurunkan wahyu kebencian dan kekerasan semacam itu? Di dalam agama Hindu keben c ian dan kekerasan adalah sifat-sifat para raksasa, asura dan daitya (demon, devil, atau syaitan).
Di samping hal-hal tersebut di atas, agama-agama rumpun Yahudi banyak meminjam dogma da ri agama - agama lain, bahkan da ri komunitas yang mereka sebut pen y embah berhala atau kafir. Dogma utama mereka tentang eskatologi seperti ha ri kiamat, kebangkitan tubuh dan pengadilan ter akhir dipinjam oleh agama Yahudi da ri agama Zoroaster Persia, lalu diteruskan kepada agama Kristen dan Islam. Legenda tentang penciptaan Adam dipinjam da ri leganda tentang penciptaan Promotheus dalam agama Yunani kuno . Bagaimana mungkin tuhan agama langit meminjam ajaran da ri agama-agama atau tradisi buatan manusia?
Swami Dayananda Saraswati (1824-1883), pendiri Arya Samaj, sebuah gerakan pembaruan Hindu, dalam bukunya Satyarth Prakash (Cahaya Kebenaran) membahas Al Kitab dan AI-Qur’an masing-masing di dalam bab XI II dan XIV, dan sampai kepada kesimpulan yang negatif mengena i kedua kitab suci in i. Bahwa kedua kitab suci in i mengandung hal-hal yang patut dikutuk karena mengajarkan kekerasan, ketahyulan dan kesalahan. I a meningkatkan penderitaan ras manusia dengan membuat manusia menjadi binatang buas, dan mengganggu kedamaian dunia dengan mempropagandakan perang dan dengan menanam bibit perselisihan. “
Apa yang dilakukan oleh Swami Dayananda Saraswati adalah kounter kritik terhadap agama lain atas penghinaan terhadap Hindu yang dilakukan sejak berabad-abad sebelumnya oleh para teolog dan penyebar agama lainnya.
Kesimpulan.
Tidak ada kriteria yang disepa k ati bersama di dalam penggolongan agama-agama. Setiap orang membuat kriterianya sendiri secara semena - mena untuk tujuan meninggikan agamanya dan merendahkan agama orang lain. Hal in i sangat kentara di dalam agama-agama missi yang agresif seperti Kristen dan I slam dimana segala sesuatu dimaksudkan sebagai senjata psikologis bagi upaya-upaya konversi dan proselitasi mereka.
Di samping it u tidak ada saksi dan bukti untuk m e mverifikasi dan mem fal sifikasi apakah isi suatu kitab suci betul-betul wahyu da ri Tuhan atau bukan? Yang dapat dikaji secara obyektif adala h isi atau ajara n yang dikandung kitab suci - kitab suci itu apaka h ia sesuai dengan dan mempromosikan nilai - nilai kemanusiaan, seperti cinta kasih, kesetiaan, ketabahan, rajin bekerja, kejujuran, keb a ikan hati atau mengajarkan kebencian dan kekerasan?
Penggolongan agama-agama menjadi agama langit dan agama bumi, jelas menunjukkan sikap arogansi, sikap merendahkan pihak lain, dan bahkan sikap kebencian yang akhirnya menimbulkan kekerasan bagi pihak yang dipandangnya sesat , menjijikan dan tidak bernilai. Di lain pihak peoggolongan in i menimbulkan rasa tersinggung, kemarahan, dan akhir n ya kebencian. Bila kebencian bertemu kebencian, hasi l nya ada l ah kekerasan.
Melihat berbaga i cacat da ri kitab suc i- kitab suci mereka, khususnya ajarannya yang penuh kebencian dan kekerasan, maka isi kitab suci itu tidak datang da ri Tuhan, tetapi da ri manusia yang belum tercerahkan, apalagi Tuhan- T uhan mereka adalah buatan manusia.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas disarankan agar dikotomi agama langit dan agama bumi in i tidak dipergunakan di dalam ba i k buku pelajaran, wacana keagamaan maupun ilmiah. D ianjurkan agar dipergunakan istilah yang lebih netral, yaitu agama Abraham ik dan agama Timur.
(Ngakan Putu Putra sebagaian bahan da ri SATS ; “SemuaAgama Tidak Sama” ).
Catatan kaki:
I). Prof . DR. H.M. Rasjidi : “Empat Kuliyah Agama Islam pada Perguruan Tinggi” penerbit Bulan Bintang, Jakarta, cetakan pertama, 1974. hal 10) H.M Rasjidi hal 53
2). Lihat Kare n Amstrong : A History of God
3). Swami Dayananda Saraswati Satyarth Prakash (Light of Truth), hal 648.
4). Ibid hal 720.
(Sumber: Majalah Media Hindu Edisi 35, Januari 2007)
September 29, 2007 pukul 2:08 pm |
Agaknya penulis tulisan di atas juga masih menyimpan sentimen negatif terhadap kelompok agama lain. Apologi terhadap agama yg dianutnya terasa sangat kental dan tidak kalah buruk bahkan bisa jadi lebih buruk dari penganut agama lain yg dikritisinya. Terbukti dari rujukan tulisan yg cuma ngambil dari orang lain dan tidak mencermati langsung dari sumber aslinya. Cuma nyari gampangnya aja. Dedikasinya dalam mendudukkan masalah pada tempatnya sehingga di dapat tinjauan yg objective sangat diragukan.
So, mawas diri adalah lebih baik
Oktober 3, 2007 pukul 8:06 am |
apakah dibenarkan dengan menyembah patung2 yg dg gampangnya kita hancurkan karena itu bikinan dari tangan2 kita.
Kenapa tidak menyembah yg bikin patung saja, toh dia lebih berkuasa atas patung2 itu.
Ingat…semua itu tentang keyakinan adanya didalam hati. tidak perlu pakai tulisan, logika atau analisa kaya orang jual kecap begini.
Semua agama tidak sama, tapi Alloh itu cuma satu, dan walaupun seluruh dunia ini tidak menyembah NYA tidak ada kerugian bagiNYA. Jadi yang cemburu itu ya yang merasa agamanya direndahkan daripada agama lain.
Bukan cuma mawas diri tapi sadarlah ada yg bisa dilihat dan dinalar ada yang ga bisa dilihat dan gak masuk akal… dua2nya harus diyakini.
Oktober 5, 2007 pukul 4:49 am |
Dik santa, Semua agama adalah penyembah patung, penyembah simbul.
Islam dengan Batu Kabahnya, Kristen dengan patung yesus di salib, Buddha dengan Patung Buddhanya. Ini, kalau mengikuti gaya pikirnya anda. Dan tulisan dibawah sedikit memberikan ceramah agar wawasan anda berkembang dan tidak sempit memandang Tuhan.
Yang saya lihat, anda cuma tahunya ajaran Hindu hanya sebatas meyembah itu saja. Pada hal dalam Hindu ada dua bentuk pemujaan Tuhan, “Melalui Tanpa Bentuk” dan “Melalui Bentuk”. Menyembah Tuhan Tanpa bentuk mungkin susah diterapkan bagi manusia yg belum mencapai tingkat kesucian yg tinggi. Bagaimana wajah tuhan? …. anda pasti tidak tahu kan?!. Dalam Agama Hindu, Wajah Tuhan ditutupi oleh tirai yg lapisannya dinamai ‘YOGA MAYA’. Bagaimana mencapai ke hal ini?…ada lagi satu rintangan yg harus dilalui yg disebut Panca Maya Kosa, Tirai yang ada dalam diri kita. Ibarat Intan dalam lumpur. Lumpur itu yg disebut panca maya kosa yg harus dibersihkan supaya sinar Intan terpancar. Jadi susah menembus dan membayangkan wajah tuhan dalam beribadah untuk menyembah tuhan tanpa wujud. DAlam Hindu diberikan kemudahan untuk mencapai hal tsb, digunakanlah Wujud Tuhan dalam Bentuk. Dalam Hindu banyak sarana bentuk digunakan oleh umatnya. Ada umat yg membayangkan simbul Tuhan berupa aksara/kaligrafi, yang menyebut namaNya. Aksara OM adalah NamaNYA, seperti kaligrafinya ALLAH. Bayangkanlah seperti itu dalam kegiatan menyembahNya. Ada juga umat yg menyembah dalam bentuk lukisan atau patung ketika Tuhan turun kedunia(Avatara) untuk menegakkan kebenaran. …dsb. Kalau boleh saya ringkas agar mengerti logikanya, seperti ketika anda masih tk/sd anda akan diberikan simbul2 aksara/angka untuk membayangkan sejumlah perkalian, pertambahan dst. Ketika anda semakin dewasa anda semakin melewati proses2 kenaikan derajat kedewasaan dan pola pikir. Memasuki dan melewati proses belajar dan alam pikir SMP , SMA, dan perguruan tinggi…hingga anda akhirnya akan memahami tingkat yg paling tinggi. Demikian pemahaman tentang tuhan dalam berbagai bentuk dan sarana menujuNya. Saya yakin anda ketika berdoa yg anda bayangkan bukan Tuhan anda, pikiran anda pasti kesana kemari, seperti seekor kera melompat dari satu pohon ke pohon lain. Pikiran anda pasti terlintas membayangkan mobil barunya, terlintas sesaat kemudian pikiran anda membayangkan piaraan anda misal kucing atau ayam belum dikasi makan dsb. Itu adalah benda2 berhala yg anda sembah walaupun sesaat saja. Dalam Hindu untuk mengontrol hal2 berhala tersebut adalah dengan mengunakan simbul baik aksara, patung, kaligrafi, lukisan yg berdasarkan dalam ajaran2 agama Hindu yg dibenarkan dan digunakan. Memang benar semuanya itu bisa di hancurkan yg seperti anda katakan dan sempat juga saya tersenyum ketika anda katakan mengapa tidak yg menciptakan hal/benda tsb. Bukan objek benda itu yg ada dalam pikiran orang Hindu, tetapi dalam Hindu dipakainya hal tersebut adalah media menuju kepada tuhan tanpa bentuk. Sama seperti ada orang islam yg hanya membayangkan kabah dsb.
Ke-2, komentar ketidaksukaan Judul Tulisan tsb terhadap rekan ananta, itu sah2 saja. Yg justru wamas diri adalah orang yg menjadi penyebab/membentuk stigma yg diberikan untuk agama Hindu, buddha sebagai Agama Bumi plus berikut pengungkapan kejelekan2nya yg asal bicara. Lah apa itu salah?. Kalau berani statement apalagi itu seorang intelektual harus berani juga mempertangungjawabkannya secara intelektual. Buku2 yg beredar di sekolah2 banyak mengutip dan mengajarkan demikian. Apa karena anda Mayoritas lalu seenaknya menginjak2 minoritas?. Lalu anda kontribusinya apa? Pasti cuek juga kan
Oktober 25, 2007 pukul 7:49 pm |
Artikel ini sangat objektif. Memang Al-Qur’an mengajarkan kekerasan, permusuhan dan kebencian. Kita bisa melihatnya dalam kehidupan sehari-hari sikap orang moeslim. Orang moeslim menyebutnya hal itu hanya pemeluknya yang salah, bukan Islamnya. Tapi kenyataannya, Islamnya yang memang mengajar hal-hal yang tidak manusiawi.
Saya mempunyai keponakan yang pernah di posantren selama 3 tahun sejak umur 7 tahun (makan, tidur dan belajar disana). Ada 25 anak-anak di posantren tsb. Dia sekarang sudah pindah agama/tidak moeslim lagi. Dia bilang bahwa yang membimbing di posantren adalah para kiyai yang kaya-kaya sekali, ada yang mempunyai istri 3. Anak-anak posantren diajarkan untuk memusuhi orang yang non-moeslim yang secara sepihak disebut kafir, najis dan musuh. Dia bilang bahwa anak-anak yang di posantren saja yang akan masuk sorga. Sedangkan yang lainnya tidak.
Hal ini membuat saya bertanya: Apakah Islam agama teroris?
Oktober 25, 2007 pukul 8:07 pm |
Menurut quran, muslim yang soleh adalah muslim yang seperti para Taliban di Afganistan (meledakkan patung budha yang umurnya ribuan tahun). Muslim yang soleh adalah muslim yang meledakkan bom di Bali. Muslim yang soleh adalah muslim yang melarang anak putrinya ke sekolah.
Jadi Islam mengajarkan umatnya untuk kembali ke jaman gelap, jaman Jahiliyah (ignorance).
Oktober 27, 2007 pukul 6:06 am |
Aku tersesat dalam kegelapan dunia yang fana, tetapi hatiku tenteram mengikuti jalannya setitik cahaya……..
Manusia dilahirkan oleh lima indera: peraba, perasa, penciuman (bau), pendengaran dan penglihatan. Lima indera itu termanifes menjadi satu dalam struktur jiwa yang diserang oleh nafsu dan kefanaan dunia, maka orang yang menang-lah yang akan melihat Kemuthlakan Tuhan-Nya.
Kalau anda menyerang agama, maka anda akan dapat kehampaan di dalamnya, tetapi jika anda meyakini atas perjalanan spiritual anda maka (mari) kita buktikan sampai anak cucu dan keturunan kita bahwa keyakinan anda adalah benar. Tauhid tidak diberikan Yang Maha Muthlak untuk hamba yang berfikir dengan akal dan nafsu, tetapi hanya untuk hamba-hambaNya yang berfikir dengan hatinya jiwa. Pertanyaan saya, agama mana yang pernah mengeksplorasi dan mengeksploitasi semua struktur materi dan imateri manusia?
Kalau anda menyerang semua kitab suci, tuntunan apa yang anda jadikan sebagai pegangan hidup? Saran saya, berfikirlah tentang firman Yang Maha Muthlak perihal penciptaan Adam. Sesungguhnya yang anda fikirkan adalah luapan ekspresi entitas jasadi dan kebingungan anda ketika berada dalam kefanaan.
Salam,
Penthol Medhioen
Oktober 27, 2007 pukul 9:20 am |
yang membuat manusia menjadi “Manusia’ dan membedakannya dengan spesies lainnya adalah berpikir. jadi sebuah kewajaran ketika masing2 individu mencari jawaban atas segala sesuatu.
saya setuju dengan saudara saut samsudin. bahwa ‘patung’ yang disembah manusia itu hanyalah sekedar media. jadi sebenarnya tak ada bedanya antara ka’bah, patung budha, salib, dsb.
bahkan jika kita bersedia lebih obyektif, tradisi penyembelihan hewan korban pun sebenarnya bisa disejajarkan dengan penyembelihan babi dalam tradisi suku2 tertentu.
terus terang saya pribadi juga tidak setuju dengan penggolongan “agama langit & agama bumi / agama alamiah & agama samawi’ (versi H.M Rasjidi) yang menempatkan golongan pertama lebih tinggi dari golongan yang lain.
karena saya lebih percaya bahwa agama adalah anak kandung dari sebuah budaya, dan bukan sesuatu yang tiba2 lahir dari rahim langit. dan karena itu, bukan kesalahan jika sebuah ‘budaya’ lebih memilih untuk berkembang. bukankah kebudayaan memang bukan sesuatu yang harusnya stagnan?
November 4, 2007 pukul 7:08 pm |
Saya setuju bahwa menghina agama2 lain itu perbuatan tidak baik. Namun di sisi lain, saya merasa bahwa suatu ajaran yang anti kekerasan mutlak tampak terlalu ideal. Artinya terlalu bagus untuk tidak dikatakan buta terhadap permasalahan kehidupan manusia.
Saya hanya bertanya-tanya kepada guru anda itu, apakah usaha para manusia yang anti kekerasan sanggup untuk mencerahkan semua orang di dunia ? Jikalau tidak berarti akan masih ada manusia yg akan berlaku jahat selamanya. Untuk hal ini diperlukan aturan praktis dalam praktek kekerasan, mungkin, sepanjang untuk membalas kesalahan pelaku atau untuk meredam kekerasan yg lebih hebat.
Maaf, tapi sebuah kaidah bahwa memaafkan kesalahan mereka lebih utama, namun boleh lah kita menguhukum setimpal kejahatannya, adalah sebuah ajaran yg lbih masuk ke dalam hati dan akal saya.
November 10, 2007 pukul 4:34 pm |
Saya setuju dgn Penthol. Carilah kebenaran itu dengan hati yang tulus,telus tanpa mendengar togma, tohmah,atau pujian dari pendapat manusiawi….apatahlagi hanya berpaksikan logika akal…apapun agama yang anda yakini kini, dalamilah ia,prhalusi dengan panduan ilmu…niatlah untuk mencari ketenangan yang hakiki.
jika anda muslim, mengapa mesti diragui? Mengapa semudah itu kita menukar agama hanya kerana kita lihat kiai yang kaya beristeri 3, membenci agama lain, padahal ada begitu ramai juga para pendeta kresten yg menukar agama menjadi muslim kerana mereka sendiri melihat kejanggalan dan kebatilan agama yg dianutinya dulu. Saya juga punya paman yang menekuni kristen.Katanya, mereka diajar membenci Islam hingga sanggup mendalami al-Qur’an kitab suci org Muslim hanya toh semata-mata untuk mencari kelemahan dan membantai agama Islam. Adakah itu anda katakan tidak teroris..? Tapi akhirnya….kerana ketelusannya mencari kebenaran… kebenaran jua yang ia perolehi dan paman saya itu menukar agamanya menjadi Muslim.
Bila anda terkapai-kapai mencari kebenaran…jangan hanya memegang kepada pendapat seorang sahaja atau bertanyalah pada mereka yang wara’ sama ada dari kalangan
paderi atau kiai yang benar-benar mengamalkan ilmunya dalam kehidupan. Jika ngak bertanya, berdialog, kita akan sesat jalan.. Jika anda muslim, lalu ragu2 tentang sesuatu dari ilmu islam,bertanya dan minta penjelasan. Mungkin juga kita toh ngak faham atau kekurangan ilmu…
Saudara,seandai anda muslim,genggamlah iman mu itu seperti kau menggenggam bara api. Walaupun panas membara,walaupun tangan mu yang melecuh,binasa tetap jua kau pertahankan.
Agama itu, ditetapi dihati,diyakini lalu di santuni dengan perbuatan yang tulus ikhlas…
November 15, 2007 pukul 5:15 am |
Agama adalah petunjuk kebenaran, bagaikan peta petunjuk lokasi bagaikan rambu-rambu lalulintas petunjuk arah kota dst. meskipun agama ada yang mengajarkan kebencian dan permusuhan tapi ajaran kebaikannya masih lebih banyak. yang namanya petunjuk selamanya ya tetap petunjuk bukan kebenaran itu sendiri. Kebenaran ada pada aplikasi perilaku setiap manusia dalam merespons ajaran itu. tidak perlu memperdebatkan sebuah petunjuk arah kota jika posisi berdiri kita diposisi yang berbeda-beda hasilnya pepesan kosong belaka, dan yang terparah perselisihan dan kebencian yang terjadi. bagaimana seorang anak TK mengomentari kalkulus, bagaimana seorang mahasiswa kedokteran mengomentari mekanika tanah. pasti “Jakasembung makan kedondong” nggak nyambung dong.
Tuhan memberi kita fasilitas hardware berupa otak dan hati, disitulah sumber-sumber kebenaran berada. mana yang lebih mendominasi dari keduanya. akan terpancar dari perilaku kita menuju keselamatan atau kesesatan. so mari kita gunakan keduanya secara tertib.
salam,
dari eyang yang tidak ber agama.
November 23, 2007 pukul 9:41 am |
“Tidak melihat baik dalam perbuatan sendiri”
“Tidak melihat jahat dalam perbuatan orang lain”
Ketika manusia dilahirkan, ia hanya diberikan hati untuk mencintai, bukan agama.
Cinta bagaimana pun lebih dari pada agama itu sendiri.
Ketika melakukan sesuatu perbuatan, tidak usah melihat kebaikan dalam perbuatan itu. Lakukan saja tanpa pamrih.
Ketika kita masih melihat kejahatan dalam perbuatan orang lain, sesungguhnya kita masih belum terlepas dari kebencian/kejahatan itu sendiri.
Belajar memahami dan mengampuni itu memang lebih sulit daripada hanya mengikuti aturan agama.
Desember 4, 2007 pukul 12:48 pm |
Agama diturunkan untuk dipahami
bukan untuk didektekan,
Agama diturunkan untuk panutan
bukan untuk perpecahan
Memang semua agama tidak sama, tapi alangkah baiknya bila kita menyikapi perbedaan dengan seksama,
bahkan di Islam diajarkan untuk menghormati agama lain dan bahkan hidup berdampingan dengan mereka, contohnya ketika masa pemerintahan Khalifah banyak orang nonislam yang hidup dengan damai.
contoh yang lain adalah pernah diriwayatkan Rasullulah Muhammad S.A.W menerima hadiah dari pendeta nasrani, dan beliau pernah memakai minyak misyik(sejenis parfum) pemberian orang nonislam.
“Allah adalah dewa hujan yang setelah digabung dengan dewa-dewa lain orang Arab dijadikan satu-satunya tuhan orang Islam oleh Muhammad.”
Menurut saya pendapat itu merupakan pendapat yang tidak benar,
darimana anda berpendapat bahwa Allah merupakan dewa hujan yang setelah digabung dengan dewa-dewa lain orang Arab sedangkan yang menurunkan hujan merupakan tugas makhluk Allah yaitu malaikat.
sedangkan dalam syahadat(bisa diartikan pengakuan/ kesaksian) berbunyi “ASYHADUALAILAHAILLALLAH WA ASYHADUANNAMUHAMMADARRASULLULAH”(mohon maaf bila ada penulisan soalnya huruf latin tidak bisa mewakili huruf arab)
dalam kalimat itu tidak ada ilah / sesembahan/ dewa kecuali Allah. berarti Allah bukan gabungan dewa-dewa.
jadi ya……. kalo mau membuat artikel tolong dikaji lebih dalam jangan asal membuat,
waallahuallam bissawab
wasalam
Desember 13, 2007 pukul 5:39 pm |
seng sabar yo, becik ketitik ala ketara, aku kristen dan aku tidak mengenal istilah agama langit dan agama bumi. bapa paus yohanes paulus II, bahkan mengatakan bahwa semua umat manusia di bumi ini adalah teman sepe “Ziarah” an. dengan demikian, bapa paus mau mengatakan bahwa tuhan tidak membedakan agama. kalau kita mati kita tidak akan ditanya oleh tuhan, apa agama kita, melainkan apa yang telah kita perbuat selama kita hidup. salam damai..
Desember 22, 2007 pukul 10:59 am |
weleh2 mbok jangan emosional temperamental gitu tho, kalo menilai agama ato keyakinan orang lain.
- Pelajari dan pahamilah dulu keyakinan anda dengan baik.
- Dengan menghujat keyakinan umat lain = mempermalukan keyakinan sendiri.
- Orang bodoh adalah orang yg menganggap dirinya paling pinter.
- Setinggi-tingginya ilmu pengetahuan yg dimiliki manusia, manusia tetaplah masih bodoh.
- Ketika orang masih bisa menghujat dan membenci, orang tesebut sejatinya belum mencapai kedamaian dalam dirinya.
- Jangan jadikan perilaku buruk segelintir orang menjadikan anda membenci agama orang yg berperilaku buruk tersebut dan/ato, bahkan anda memurtadkan diri dari agama tersebut…..sama saja Buruk Muka Cermin Dibelah.
- Tidak ada guru(pemuka2 agama) yg sempurna, yg ada adalah orang yg bisa menggurui orang yg pantas digurui karena kebodohannya.
- janganlah menilai sesuatu hal dengan landasan benci, sehingga tidak ada hal lain yg didapat kecuali kebencian itu sendiri.
Desember 27, 2007 pukul 3:18 am |
Inti dari semua agama adalah menyembah Sang Pencipta. Bagi saya untuk mencari agama yang benar adalah dengan melihat apa yang disembah apakah ini masuk logika atau tidak!!! Manusia diciptakan dan punya kelebihan dari mahluk lain karena LOGIKA/PIKIRAN.
Kita lihat beberapa prinsip ketuhanan dalam beberapa agama didunia ini. Yang paling masuk akal adalah prinsip ketuhanan yang ditawarkan oleh Al-QURAN. Surah Al-Ikhlas ayat 1-4 :
1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa.
2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
4. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”
Ayat 1
Coba kita pikir dengan akal sehat prinsip ketuhanan yang ditawarkan selain dari Islam,
tuhan lebih dari satu, bisa bayangkan yang akan terjadi pada alam ini jika tuhan lebih darisatu. Alam ini tidak akan serasi, selaras seperti ini. Dan betapa lemahnya tuhan jika ada yang sama dengannya.
Ayat 2
Dalam agama lain, ada kata dalam kitabnya “eli-eli lama sabaktani”(tuhan-tuhan mengapa engkau meninggalkanku) sudah jelas bahwa ini bukan tuhan karena dia saja bermohon dan bergantung pada selain dari dirinya.
Ayat 3
Tuhan yang hakiki tidak mungkin beranak, jika Dia beranak maka akan menghancurkan nilai ketuhanannya sendiri.Tuhan tidak mungkin berkembangbiak.
Ayat 4
Memperjelas ke Esaan-NYA(ayat 1). memperjelas, ayat 2 dan ayat 3.
Cukup dengan 4 ayat. Islam menjelaskan konsep ketuhanan yang menjadi dasar landasan dalam beragama.
Adakah Konsep yang ditawarkan begitu RELEVAN dan MASUK dalam Akal dan Hati kita ??? Yang begitu masuk akal selain agama Islam!!! Klo ada tolong tunjukkan. Bagaimana konsep ketuhanan menurut agamanya, dan kita semua boleh menguji konsep itu menggunakan AKAL kita. Bukan akal-akalan.
Desember 28, 2007 pukul 7:08 am |
Kalau memang benar Tuhan(Allah) itu maha adil, maha kasih dsb.
Jangan lagi ada kata2 pemisahan antara Kafir dan non Kafir. Jangan lagi ada perintah2 membunuh orang2 yg tidak percaya. Jangan lagi ada orang2 pilihan(bangsa), agama pilihan. Jangan lagi dibuatkan Sorga dan Neraka Abadi.
Kalau ini masih ada, bila Dia dihadapan saya…akan saya tendang pantatnya. Saya akan krangkeng dia dan membawanya ke Rumah Sakit Jiwa.
Saya tidak suka dengan Tuhan seperti ini. Tuhan yg sakit. Tuhan yang TIDAK MASUK AKAL
Desember 30, 2007 pukul 6:43 am |
Tiada KEBENARAN yg melebihi KENYATAAN.
Januari 1, 2008 pukul 7:16 pm |
@Suheng
tulisan anda yang mengatakan bahwa anda akan menendang pantatnya Dia dan membawanya ke Rumah Sakit Jiwa, sungguh menunjukkan kesempitan hati anda, juga kedangkalan pengetahuan anda, lantaran merasa tidak puas dan tersinggung kepada beberapa golongan umat agama tertentu, kalau konteksnya anda sedang berada dalam forum diskusi dan debat yang sehat.
saran saya: menulislah dengan terlebih dahulu berpikir menggunakan otak, bukan dengan pantat! Ok, bung Suheng!
Januari 2, 2008 pukul 5:11 am |
@Joe
hahaha, kedangkalan???. Apakah anda selama ini berpikir dengan pantat???. Pantesan aja saya pengen tendang pantat anda supaya mikir jangan pake pantat. Masih terima dokrin Tuhan menciptakan selain Islam yg masuk akal????.Masih terima dokrin Tuhan yg menciptakan dan memisahkan antara non believer Vs beliver masuk sorga/neraka abadi????
Bagi saya Tuhan anda itu sakit. Seharusnya anda berpikir tuhan yg bagai mana yang masuk akal. ADALAH TUHAN YG MENCIPTAKAN MANUSIA DAN SEGALA ISINYA BERASAL DARI DIRINYA dan KEMBALI KEDIRINYA LAGI.
BUKAN NERAKA ABADI dan SORGA ABADI yang TERPISAH DARI DIRINYA.
Masih bingung???? …..mangkanya jangan mikir pake pantat. Buang dokrin2 yg berasal dari pantat. BAUUUUU tau
Januari 8, 2008 pukul 8:17 am |
Tuhan itu maha besar maha pencipta, oleh karena itu terserah mau apa Dia. Punya anak, jadi banyak bentuk, jadi patung, jadi batu atau jadi WTS pun nggak apa-apa. Justru kalo Tuhan bisa dilarang-larang dan dibatasi oleh manusia tentunya Tuhan jadi kalah manusia.
Bahkan kalo Tuhan mau menelan ludah sendiri biarin aja, Toh dia maha besar, maha pencipta.
Januari 17, 2008 pukul 4:27 am |
Banyak sekali orang2 pintar bahkan sekolahnya tinggi2 sampai lupa siapa dan dari mana dirinya berasal. Dan tidak mengherankan buku2 ataupun tulisan2nya pun tidak berpijak kepada Agama melainkan menuhankan pemikiran. Lihatlah tulisan dan komentar2 diatas menempatkan agama sebagai biang kerecokan dan dengan bangganya kebudayaan atau pemikiran mereka lebih diagungkan. Apakah sudah benar2 sehebat itu pemikiran mereka? menurut saya tulisan itu hanya berupa retorika belaka dan tidak akan pernah ada pembuktian perbaikan sistim dengan cara berfikir mereka justru sebaliknya. Coba di telaah lagi tulisan itu hanya teori global, adakah paduan pelaksanaan dilapangan???
Terlepas anda tidak menerima kebenaran agama itu sendiri, mari kita bicara dari segi logika anda sendiri dan silahkan anda2 yang memakai pikiran kumpulkan buku2 referensi anda yg menjabarkan dan memberi paduan mulai sistim pemerintahan, hubungan masyarakat hingga kehidupan anda yang paling pribadi sekecil apapun dan ada manusia yang bisa melakukan itu semua agar bisa dicontoh pengikutnya.
Ada nggak???
Mahluk lemah ini mencoba memudahkan kepada sesama insan untuk memahami dengan membuat suatu “Piramida Ideologi” silahkan klik ini http://mydin.wordpress.com/2007/11/15/piramida-ideologi/
Januari 22, 2008 pukul 8:50 am |
Sang penulis ternyata punya kebencian yang melebihi kebencian orang yang beragama. Silahkan baca di Sirah Nabawiyah sikap orang islam waktu mereka mengalahkan orang kafir Makkah yang biasa dikenal dengan kisah Fathu Makkah.
Januari 24, 2008 pukul 8:59 am |
Good Artikel, Islam dan Kristen memang biang ricuh berabad2.
Masing2 ingin selalu menjadi superioritas dengan saling ejek, hina, perang, fitnah, dan terakhir dalam perjalanan di abad 8 s/d sekarang ini, dua agama abrahamic selalu menghina, menghancurkan agama2 di luar agamanya.
Mudah dilihat dalam dokrin2 Islam dan Kristen, perintah dari Tuhannya(Firman) untuk menghanguskan kepercayaan diluarnya. Dengan iming2 bila percaya kepadanya akan masuk sorga dan bila tidak masuk neraka abadi
Januari 25, 2008 pukul 5:01 pm |
hi.. blog yang bagus..
Efek2 psikologis tidak sehat dari agama abrahamic :
http://butterflyandwind.wordpress.com/2008/01/22/mitologi-abraham/
http://butterflyandwind.wordpress.com/2008/01/23/mitologi-monotheis-kristen-islam-dan-dampak-negatifnya/
mungkin setelah istilah agama langit vs bumi diganti jadi abrahamic vs timur.. saatnya disatukan juga.. hmm jadi apa ya.. agama kemanusiaan aja.. klo aku usulin.. ^^
http://butterflyandwind.wordpress.com/2008/01/25/gnostik-yesus-sufi-campur-aduk/
Februari 1, 2008 pukul 2:48 am |
Ketidak yakinan anda terhadap riwayat2 tsb dianggap mitos dan tentulah anda memilih pikiran dan perasaan sebagai pedoman hidup anda.
Yakinkah pikiran dan perasaan anda mampu menjawab pertanyaan2 di jagad raya ini?…
Bukankah pikiran dan perasaan anda selalu berubah2 sehingga anda sendiri akan sering tidak yakin siapa diri anda sebenarnya.
Kalaulah anda anggap Nabi2 tsb merupakan manusia biasa, paling tidak mereka manusia luar biasa dari anda, kenapa??? karena walau bagaimanapun saya yakin anda tidak akan mampu membuat mitos2 sejenis itu walau anda berusaha sampai mati. Apakah anda begitu yakin dengan kemampuan diri anda yg tidak seberapa dan tidak ada apa2nya sehingga bisa menterjemahkan riwayat para nabi menjadi suatu mitos???
Februari 7, 2008 pukul 4:36 am |
Artikel yg sangat bagus. Lets start think, dan hancurkan dinding kebodohan….yg dibangun dari doktrin2 palsu, penuh kebencian dan kepalsuan akan iming surga dan neraka abadi…temukan tuhan dalam diri dan kedamaian abadi
Maret 29, 2008 pukul 5:35 am |
Masih bisakah para tokoh agama kita diajak berpikir:
1. Kenapa pelan-pelan secara pasti aset negara dikuasai asing?
2. Kenapa semua kedudukan tinggi di suatu perusahan besar nasional selalu dipegang oleh orang asing?
3. Mengapa prestasi duniawi yang menyebabkan suatu bangsa itu berkuasa?
4. Kenapa harga diri suatu bangsa selalu terkait dengan prestasi duniawi?
Mohon dicari bersama jawabannya. Landasan apa sebenarnya yang menopang hal di atas bisa terjadi.
Saya pingin sekali melihat Indonesia ini mampu menakut-nakuti Australia, Inggris, Amerika dan sebagainya. Jangan sampai Malaysia saja mengobok-obok Kalimantan dan melecehkan TKI
Mudah-mudahan ada yang mau berpikir ke arah itu.
http://www.balitouring.com http://www.jakarta-cityhotels.com
Maret 29, 2008 pukul 5:44 am |
Hallo gndonsintinksingoramelungedanningjamanedan,
Pantas saja negara-negara yang menganut Islam kental alamnya hancur berantakan. Lihat saja Mesir, Sirya, Libia, Arab, Yaman, Irak, Iran, Pakistan, Bangladesh, dan banyak di Afrika.
Penyebabnya adalah : Hanya Allah yang benar, selain itu tidak ada yang benar.
1. Hormati alam — tidak benar
2. Jangan tebang pohon — tidak benar
3. Hormati sungai — tidak benar
4. pelihara akan denan baik — tidak benar.
Lalu yang benar yang mana
Ya, ya benar Allah.
Ini bagaimana
Maret 29, 2008 pukul 5:56 am |
Bisakah saya ajak berpikir tentang bagaimana caranya menjawab pertanyaan ini:
1. Kenapa keberhasilan duniawi selalu menyebabkan suatu bangsa itu supeior?
2. Bisakah dipikirkan bahwa kebenaran agama itu menyimpang dari kebenaran duniawi?
3. Bukankan kebenaran itu konsensus akal. Jika kebenaran itu konsensus akal bisakah kita mengatakan bahwa yang benar itu tidak dicerna oleh akal?
Saya pingin sekali Indonesia ini mempunyai power, jangan hanya dilecehkan oleh negara maju, bahkan belakangan ini oleh Malaysia dengan membeli semua aset bangsa dan mengubek-ubek Kalilmantan dan TKI.
http://www.balitouring.com http://www.jakarta-cityhotels.com
Maret 29, 2008 pukul 11:33 pm |
Dasar manusia….
acem kontes aza…pilih Tuhan segala…Emangnya Tuhan itu banyak yachh..
pake tawaran segala lagi…yg mana paling baguslah,yg manalebih ditinggikanlah…
kurasa Tuhan lagi bersedih ne liat Ciptaan nya sok tau,sok pande..pake penilaian segala macamlah,dijelek2kan lagi..huam dechhhhhhh..
Tp yg penting hanyalah sembah sujud bagi pencipta alam semesta…Only that..
mengenai surga dan neraka saya pikir sich milik semua orang tergantung kita mau pilih kmana dalam perbuatan kita sehari2…toh kl kita menilai agam yg paling bagus atopun ponya agama paling bagus utk apa kl masok neraka juga gara2 perbuatannya selama didunia…emank nya ditanya agama dari mana ato kl yg beragamakan ini trus langsung masok surga…
anaeh2 aza manusia (DASAR MEMENG MANUSIA)
April 8, 2008 pukul 10:15 am |
Ngeliat orang berantem aja ah…
Pada pinter semua ya di sini. Udah pada ngerti dan mendalami semua agama. Klo saya mah satu aja susah banget mendalaminya, sampe sekarang belum paham dan ngerti.
Hebat semua yang diskusi di sini (kecuali saya) pinter-pinter semua. Sepertinya Albert Einstein kalah sama yang diskusi di sini.
Saluuutttt……..
April 16, 2008 pukul 8:32 am |
Menurut agama yg saya pelajari(Hindu),kita semua tidak boleh menilai dr aspek negatif,Hindu,Budha,kristen,katholik,islam…semua agama baik dan mengajarkan kebaikan..penilain negatif dr suatu agama laen adalah respect dr emosi negatif..
April 22, 2008 pukul 3:10 am |
@yang punya blog
artikel yang bagus.
April 27, 2008 pukul 4:22 pm |
kalau ngak salah agama hindu yang saya pelajarin disekolah bukannya campuran dari kebudayaan bener ga yah?????????
April 28, 2008 pukul 5:53 am |
Betul Sekali, KEBUDAYAAN TUHAN.
Agama Hindu yg TIDAK BERAWAL dan BERAKHIR, karena Hindu adalah Nafas Tuhan. (Berbeda dengan Islam dan Kristen, ada awal (tgl kelahiran) dan pasti ada akhir(tgl kematian), tidak ada keabadian)
Peradaban Hindu menyaksikan kehancuran peradaban dari zaman mesir, yunani, romawi, dan sebentar lagi akan menyaksikan kehancuran peradaban barbar dengan budaya saling bunuh, hina, mencap kafir. Budaya kekerasan ini kalau ditelusuri bersumber dari kitab sucinya masing2 alias dari tuhannya.
Menurut Hindu, justru hal2 seperti budaya kekerasan yg berasal dari kitab suci tsb adalah perbuatan SETAN/DEMON. SESEMBAHANNYA adalah SETAN/SATAN/DEMON/LUCIFER. Sudah pasti kitab sucinya di buat juga oleh SETAN/SATAN/DEMON/LUCIFER.
Ini yg luput dipelajari dari buku2 pelajaran di sekolah
Mei 19, 2008 pukul 4:31 am |
Ada yang bilang Alquran itu buatan orang Belanda namanya Van Mook
Mei 21, 2008 pukul 12:25 pm |
Saya Islam, tetapi saya setuju jika dikotomi agama langit dan bumi dihapuskan. Saa sudah merasa janggal saat kali pertama mendengar penjelasan soal itu di kuliah agama. Dikotomi yang sangat sempit dan memuja keyakinan diri sendiri
Juli 23, 2008 pukul 9:16 pm |
Saya seorang Muslim. Dan saya juga setuju tentang penghapusan istilah agama langit dan agama bumi. Dari awal saya lebih prefer pembagiannya disebut sbg Abrahamic Religions (Christianity, Islam and Judaism), Indian Religions (Hinduism, Buddhism, Sikhism, and Jainism), Far Eastern Religions (Taoism, Shinto, Chondogyo, Caodaism, and Yiguandao), etc. seperti yg dipakai oleh Karen Armstrong ato di Wikipedia. Klasifikasi ini lebih enak dipakai menurut saya (see Religion Classification) drpd klasifikasi agama langit/non-langit yang gak jelas pembagian/klasifikasinya.
Anyway, buat yg nge-hina Islam. It’s USELESS. Anda mo nge-hina Islam, Kristen, Yahudi, ato agama laen sampe berbuih pun itu TIDAK AKAN membuat penganut agamanya pindah dan mengakui agama anda sebagai agama yg benar. Yang ada malah menambah kebencian terhadap agama anda. Dan malah MEMPERBURUK citra agama anda. Jadi, mungkin sesekali belajar toleransi tidak rugi juga…
Salam,
Daniel Al Ashyar Putra.
Agustus 11, 2008 pukul 10:30 am |
Buat Sdr. Daniel
Kalau saya baca artikel diatas nampaknya memang benar di Indonesia bahkan di Dunia yang kini di kuasai oleh Agama agresor atau imperalisme agama yg ingin mencari pengikut sebanyak mungkin dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan cara menjelek2an ajarannya seperti kasus penggolongan agama seperti tulisan diatas dengan harapan mereka dapat pindah agama. Saya teringat dengan mukadimah al-quran keluaran depag (sekitar tahun 70an,maaf tepat tahunnya saya lupa) dimana disana sangat jelas menjelek2an agama Hindu. Sangat mengherankan dalam sebuat kitab suci yg konon di jaga sampai kiamat oleh malaikat ternyata masih suka menjelek2 agama orang lain yg tidak ada hubungannya sekali.
Mungkin ini kehebatan orang2 Islam, dengan maksud hati meninggikan ajarannya dengan cara menginjak2 ajaran orang lain. Tidak hanya ini saja masih banyak kasus yg anda tidak sadari seperti buku2 penerbitan SMA yg mendiskreditkan agama Hindu, kotbah2 ulama/ustad/kiayi di mesjid yg sangat keras suaranya menghina agama Hindu sebagai penyembah berhala, sinetron2 mistik yg menyudutkan Hindu…dsb…dsb. Belum lagi kasus seteru segala zaman anda yaitu agama kristen dan bangsa yahudi. Semua sami mawon, karena berasal dari satu rumpun keturunan ABRAHAM, yg suka dengan hal2 sejenis yg saya sebutkan diatas.
Kalau demikian, kritik yg dipaparkan oleh artikel diatas kenapa anda marah??. Satu telunjuk anda dengan segala hal tudingan kepada agama lain sebenarnya anda telah memiliki tiga jari yg mengarah kepada keburukan agama anda. Artikel tsb baru segelintir yg dipaparkan, masih banyak peluru keburukan yg mudah untuk menjatuhkan kepada agama anda(yg konon lagi di jaga malaikat
). Jadi jangan kebakaran jenggot … terimalah dengan lapang dada
Gitu aje kok refot
WassShalom
Muhammad Joshua Soeharto
Agustus 12, 2008 pukul 4:23 am |
Opss …. baru dapet buka2 buku lagi. Ini info atau referensinya tentang kitab Al-quran keluaran Depag yg berisi melecehkan agama Hindu yaitu di halaman 38-40 Bab II. Tahun penerbitnya 1984. Silakan anda cari kehebatan pelecehan tsb untuk membuktikan bahwa saya bukan sekedar omong kosong. Satu lagi adalah Buku pelajaran Antropologi SMU penerbit Yudistira yg melecehkan Hindu. Ini untuk melengkapi tulisan saya diatas
Inilah hebatnya bangsa Indonesia yg bermayoritas Islam, untuk melecehkan agama orang mereka hanya diam dan bisu seribu bahasa. Sementara kalau anda yg dilecehkan, perangai anda begitu beringas dengan ancaman bunuh, membakar dsb. Hebat.
Trimakasih. Semoga kedepan, dengan adanya kritik ini anda2 semua sadar, bahwa agama seperti pisau yg harus hati2 menggunakannya. Bila menyakiti orang lain berarti perlunya tafsir ulang terhadap firman2 dr tuhan. Jangan sampai firman tersebut datangnya dari setan. Karena setan menurut kepercayaan anda suka sekali mengganggu manusia dengan berbagai cara.
WassShalom
Muhammad Joshua Soeharto
September 8, 2008 pukul 2:11 am |
Saya membaca terjemahan serat darmo gandhul tentang sejarah akhir dari kerajaan majapahit dan mengapa begitu gampangnya orang jawa beralih dari agama hindu ke agama islam. Disana diterangkan behwa agama islam masuk ke Jawa ternyata bukan hanya dengan cara damai tapi juga dengan cara kekerasan dan penghasutan/penjelekan agama lain.
Ini sebagian terjemahannya:
Sekalaning Majapahit
Adapun menurut pendapat yang lain, matinya Adipati Pengging dan Ponorogo karena ditenung oleh Sunan Giri, agar jangan mengganggu di belakang hari.
Maka cerita hancurnya negeri Majapahit itu disembunyikan, tidak seimbang dengan kebesaran serta luasnya kekuasaannya. Semua itu untuk menutupi rahasia raja, seorang putra memusuhi ayahandanya. Apabila dipikirkan sangat memalukan. Sejarah hancurnya Majapahit disemukan oleh para pujangga bijaksana menjadi demikian:
“Karena Karomah para wali, keris Sunan Giri ditarik keluar ribuan tawon yang menyengati orang Majapahit. Mahkota Sunan Gunung Jati Cirebon, keluar tikusnya beribu-ribu menggerogoti bekal dan pelana kuda prajurit Majapahit sehingga bubar, karena banyaknya tikus.”
“Peti dari Palembang ada di tengah perang dibuka keluar demit-nya, orang Majapahit geger karena ditenung demit. Sang Prabu Brawijaya wafat mikraj.”
Kemudian Kyai Kalamwadi bertutur kepada murid yang bernama Darmo Gandhul,
“Namun semua tadi hanya pasemon(=kiasan). Adapun kenyataannya, cerita hancurnya Majapahit itu seperti yang kuceritakan tadi. Negara Majapahit itu besar dan kokoh. Akan tetapi bisa rusak karena digerogoti tikus ? Biasanya tawon itu bubar karena diganggu orang. Hutan angker banyak demitnya. Bubarnya demit apabila hitannya dirusak oleh manusia untuk dibuat sawah. Tetapi apabila Majapahit rusak karena dari tikus, tawon, dan demit, SIAPA YANG PERCAYA?
Apabila orang percaya Majapahit hancur karena tikus, tawon, dan demit, itu artinya orang tadi tidak tajam pikirannya. Cerita yang demikian tadi ANEH DAN TIDAK MASUK AKAL. Tidak cocok lahir batin. Maka hanya untuk pasemon (= kiasan). Apabila diterangkan dengan jelas maka artinya membuka rahasia Majapahit. Maka hanya diberi perlambang agar orang berpikir sendiri. Adapun pasemon tadi artinya demikian:
Tikus itu wataknya remeh, tetapi lama-lama apabila dibiarkan akan berkembang biak. Artinya, para ulama awalnya ketika baru sampai di Jawa meminta perlindungan kepada Prabu Brawijaya di Majapahit. Sesudah diberi, balas merusak.
Tawon itu membawa madu yang rasanya sangat manis, senjatanya berada di anus. Adapun tempat tinggalnya di dalam tala, artinya tadinya ketika dimuka memakai kata-kata yang manis, akhirnya menyengat dari belakang. Adapun tala artinya mentala ‘tega’ merusak Majapahit, siapa yang mendengar pasti marah.
Adapun demit diberi wadahi peti dari Palembang, setelah dibuka berbunyi menggelegar. Artinya Palembang itu mlembang, yaitu ganti agama.
Peti artinya wadah yang tertutup untuk mewadahi barang yang samar. Demit artinya samar, remit, rungsid. Demit itu juga TUKANG SANTET.
Adapun jelasnya demikian, hancurnya Negeri Majapahit disantet dengan cara samar, ketika akan menyerang tidak ada tantangan apa-apa, menyamar hanya untuk menghadap ketika hari raya grebeg.
Mereka dikejutkan, Orang Majapahit tidak siap senjata, tahu-tahu Adipati Terung sudah membantu Adipati Demak.
Sejak Jaman Kuno belum pernah ada kerajaan besar seperti Majapahit hancur dengan disengat tawon serta digerogoti tikus saja, bubarnya orang sekerajaan hanya karena disantet demit. Hancurnya Majapahit suaranya menggelegar, terdengar sampai ke negara mana-mana. Kehancuran tersebut karena diserang oleh anaknya sendiri dibantu yaitu Wali Delapan atau Sunan Delapan yang disujudi orang Jawa. Sembilannya Adipati Demak. Mereka semua memberontak dengan licik.
September 25, 2008 pukul 4:02 pm |
ya memang semua itu HANYA TUHAN yang tahu kalo pake pemikiran otak kita + emosi dan lain lain ya cuman gitu gitu aja dapetnya hehehehhe….
Oktober 14, 2008 pukul 4:47 am |
Saya Adalah Penganut Islam Sejati, Tapi bukan berarti saya harus memvonis agama lain masuk neraka, kafir itu adalah vonis yang hanya Tuhan boleh memberikannya, karena hanya Dialah yang tahu siapa yang salah dan siapa yang benar, kita hanya memiliki informasi sekilas tentang siapa yang kafir dari kitab2 suci yang tentu bisa kita asumsikan dengan berbagai macam penafsiran. Beragama itu bukan tentang mencari kesalahan keyakinan orang lain, tapi bagai mana kita sendiri berusaha dan berupaya tiada henti untuk mencari kebenaran Tuhan itu sendiri dan selalu berorientasi kepada kebaikan. Contoh terbaik dalam hal ini adalah Nabi Ibrahim, karena Ibrahim adalah penganut agama yang hanif, yaitu sebuah proses pencarian Tuhan yang tulus dilakukan dengan kesadaran hati dan fikiran. Ibrahim pernah menyembah Bulan, Matahari, Bintang sebelum Ibrahim mendapatkan petunjuk dari Allah. Pertanyaan saya !! seandainya Ibrahim Mati Ketika Dia sedang mencari Tuhan, Sedang Beliau Meyakini Matahari Adalah Tuhan !!! Apakah Ibrahim Akan Kita Katakan Mati Dalam Kekafiran ????
Tolong Di Jawab Bagi Yang Merasa Pintar Agamanya ????
Nabi Ibrahim lebih beruntung karena dia diberikan petunjuk olah Tuhan !! Nah bagi kita yang bukan Nabi !!! yang terbaik adalah SELALU BERUSAHA MENCARI KEBENARAN TUHAN DAN SELALU BERORIENTASI KEPADA KEBAIKAN !!!! Kalau itu sudah tertanam dalam hati kita, kalaupun kita salah dalam membaca firman-firman Tuhan yakinlah Tuhan akan mengampuni kita !! dan Yakinlah Tuhan akan selalu memberikan kita petunjuk !! Karena Petunjuk itu hanya akan diberikan kepada Siapa Saja yang dikehendaki oleh ALLAH dan kepada siapapun benar2 mencari petunjuk Allah.
Oktober 15, 2008 pukul 6:50 pm |
Makanya :
Agamaku bagiku – Agamu bagimu
Peun!! (Titik!!) Gak perlu diskusi.
Ada malam ada siang, ada baik ada jahat, ada kurang ada lebih.
Udah repot repot ribut sana sini, cape mikir jauh-jauh kalau ternyata semuanya cuma dongeng kan rugi?
Segala-galanya juga harus YAKIN dulu.
November 3, 2008 pukul 9:28 am |
hai orang orang yang berbeda agama denganku
aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah
dan kamu tidak akan menyembah apa yang aku sembah
aku tidak pernah menyembah apa yang kamu sembah
dan kamu tidak pernah pula meyembah apa yang aku sembah
BAGIMU AGAMAMU DAN BAGIKU AGAMAKU
November 4, 2008 pukul 6:25 am |
Memang aneh firman tuhan kalau di lihat dr kitabnya.
Satu sisi berbicara ‘BAGIMU AGAMAMU DAN BAGIKU AGAMAKU’
Satunya lagi ‘bunuh,bakar, hina,…dst” bagi mereka yg tidak seiman.
Bila umatnya kepepet bila keborokan di ungkap maka dengan cara ‘ngeles’ akan berkata seperti diatas.
November 7, 2008 pukul 9:29 pm |
artikel sampah.
mengkritik klaim kebenaran agama lain dengan mengklaim kebenaran keyakinan sendiri.
mengejek Tuhan agama lain tanpa tahu bagaimana konsep Tuhan yang dipahami oleh penyembahnya. Penulis memahami Tuhan agama lain hanya dari pemahamannya sendiri.
November 10, 2008 pukul 5:05 am |
Bermula dan menjadi pemicu dari komentar “SAMPAH” ala Dr. H.M . Rasjidi dan Ernst Trults. “Satu jari telunjuk” mereka berkomentar sampah sebenarnya merupakan 3 jari menuju diri mereka yg penuh dengan sampah.
Anda harus belajar dari hal ini, supaya kehidupan anda tenang. Anda mengerti???
November 12, 2008 pukul 2:31 pm |
ari_nugrohovich@yahoo.com
Januari 1, 2009 pukul 4:12 pm |
YA AIYUHAL KAFIRUN……….Sesungguhnya kamu kalian tidak mengerti apa yang sebenranya kamu debatkan..sedangkan kamu sendiri alpa..tidak menjalankan ibadah dan kepercayaan kamu semua kepada agama-agama kamu..dan wahai ahlul kitab..beritakanlah kepada penganut mu sesuatu yang benar tanpa memburuk2an yang lain..
Lihatlah kedepan matu mu kalian..apakah kalian semua takutkan kebenaran..
Fikirlah tentang kematian..siapakah yang akan menjagamu
Wahai Tuhan yang aku berada di dalam genggamanNya..kau berikanlah petunjuk dan hidayat kepada penghina-penghina agama Islamku dan Nabi mu…
Januari 7, 2009 pukul 10:41 am |
Si aZRUL nampaknya seperti setan kuntilanak
banyak cakap yg ngak berguna.
Januari 14, 2009 pukul 3:35 pm |
maaf ya.di tempatku semua agama berdampingan dengan damai.
kalau memang di salah satu agama ada suruhan ‘bunuh,bakar, hina,…dst” bagi mereka yg tidak seiman, mungkin dari dulu banyak sekali tetanggaku (termasuk juga aku) sudah mati.
Januari 25, 2009 pukul 6:12 pm |
Semua Orang beragama apapun mengetahui bahwa Tuhan itu satu tetapi pada dasarnya mereka meyakini bahwa Tuhan itu ada Tiga. Termasuk anda juga.
Lho koq gitu ?
Sekarang mari kita buktikan,
Sadarilah bahwa setiap pemeluk agama hanya Tuhannya saja yang diyakini benar sementara Tuhan agama lain itu tidak benar. Tuhannya Yahudi untuk Yahudi sendiri, Tuhannya Kristen untuk Kristen sendiri, dan Tuhannnya Islam untuk Islam sendiri.
Mengapa selama ini kita merasa bahwa hanya Tuhan kita saja yang benar ? Inikan sama saja meyakini bahwa ada Tuhan lain untuk agama lain ?
Padahal Tuhan yang kita yakini itu sebenarnya adalah Tuhan mereka juga. Tidak ada Tuhan lain lagi. Dan yang menggerakkan mereka adalah Tuhan kita juga.
Pencipta alam raya ini.
Yang menggerakkan semua yang ada di dunia ini hanyalah Dia. Kita ini hanyalah bonekanya saja.
Apakah tidak cukup bagi kita, selama ini melihat orang yang kena stroke, lumpuh, atau mati separuh itu tidak menyadarkan kita Bagaimanakah kita seharusnya memahami dunia ini ?
Februari 19, 2009 pukul 7:41 am |
Saya bersyukur mendapatkan forum ini beserta masukan dan tanggapannya, menambah wawasan saya dalam berfikir dan berprilaku. bahwa saudara, sahabat sebangsa beraneka ragam hingga perlu dijaga rasa persatuan dan kesatuan untuk menjalani kehidupan berbangsa dan bertanah air. Indonesia semoga tetap jaya. Amin .. amin…. amin
Februari 20, 2009 pukul 6:49 am |
Om Suastiastu…
Camkanlah sloka ini…
“Ekam Sat Wiprah Wahuda Wadanti”
artinya :
“Hanya ada satu Tuhan, tidak ada duanya tapi orang-orang arif bijakasana menyebutnya dengan banyak nama”
Februari 23, 2009 pukul 6:08 am |
HIDUP DI JAMAN KALI YUGA/DARK AGE INI MEMANG HANYA KEBENCIAN YANG TELAH MENDOMINASI WATAK MANUSIA. TAPI SEBENTAR LAGI JAMAN KALI YUGA AKAN BERAKHIR. TAHUN 2013M KITA MASUK KE JAMAN BARU, SEMOGA KITA DITAKDIRKAN MENJADI PENGISI JAMAN TREPTA NANTI.
OM SANTI…SANTI..SANTI..OM
***MASSAGE FROM INDIA***
Maret 30, 2009 pukul 3:52 pm |
O gtu ya
Mei 6, 2009 pukul 9:13 am |
salam damai selalu…
mari kita dinginkan hati sebelum semua menjadi semakin emosi.
Forum ini jangan sampai menjadi awal perang lanjutan.
Di Indonesia memang masih belum sepenuhnya bebas dalam menentukan sikap memilih agama. Mungkin pernah saya berpikir kalo lahir di keluarga tertentu beragama X, pasti ajaran itu yang saya anut.
Yang paling fair ( hanya menurut pandangan saya ) adalah orang dengan sadar memilih agamanyasetelah tahu seluk beluk semua agama yang ada.
Jadi tidak diturunkan karena kita lahir di keluarga penganut agama X.
Ada satu institusi yang cukup fair walaupun tujuannya bukan untuk memilih agama ( kayak milih jurusan kuliah/ SMA aja..)
Institusi tsb adalah institusi pendidikan yang mencetak tenaga kesehatan. Tujuannya agar mereka akan mengerti bagaimana treatment pasien yang berbeda agama. dan juga untuk meningkatkan rasa toleransi kemanusiaan tanpa memandang agama apa.
Namun yang pasti..mari kita dalami agama masing2 dan mencari pencerahan untuk dapat bersatu dengan-Nya. Dalam pelukan dan kaki-NYa. Tanpa harus menyakiti orang lain.
Mohon maap atas pendapat saya yang masih dangkal ini…
Student of Devotion to God..
Juni 14, 2009 pukul 2:25 am |
Saya tidak beragama, jadi tidak bisa berkomentar utk tulisan diatas.
Hanya saja, saya berusaha menyerahkan diri saya ( secara wujud & non wujud ) untuk Tuhan, tanpa perantara agama.
Juli 12, 2009 pukul 4:43 am |
membaca komentar diatas, banyak yang menyebut bahwa tulisan/ artikel ini asal2n. Mungkin alangkah baiknya dengan membandingkan juga pada referensi yang disertakan. Bila anda pernah membuat karya tulis/ skripsi/thesis yang benar2 hasil kerja keras anda pasti anda tau bahwa referensi itu tdk asal2n ditaruh.
mengenai masalah kebencian penulis pada agama lain yang teramat besar, saya sebagai org yang berkeyakinan sama dengan penulis–Hindu, lebih tepat mengatakan bukan membenci agama melainkan membenci beberapa org dari agama lain yang berusaha merubah keyakinan dengan berargumen menghina keyakinan saya. Mungkin berusaha mengubah keyakinan org itu benar tapi jika anda sendiri yg dibelokkan ajarannya dgn cara2 terhina apakah anda tdk marah?. Ini adalah suatu bentuk perlawanan yang bisa dikatakan berpendidikan. Kita diserang dengan cara2 kotor hanya berdasarkan pemikiran sempit dan rasa bahwa ajaran saya lebih tinggi darimu dilawan dengan cara yang lebih halus, berdasar kuat bukan asal membalas.
masalah agama langit dan agama bumi, saya lebih cenderung melihat agama sebagai suatu bagian dari kebudayaan suatu bangsa. Alasan saya y karena tdk ada saksi yang objektif yang mampu membuktikan ajaran agama itu diturunkan dari langit. Contoh dalam budaya misalnya munculna angka nol (0). Jika saya katakan angka nol pertama kali berasal dari peradaban India apakah anda setuju? karena dunia umumnya mengenal angka nol dari arab. Jika kita lihat sejarah bangsa2 jaman dahulu apakah tdk mustahil terjadi invasi arab ke india? jika y, berkait dengan munculna peradaban HIndu, apakah benar berawal di tahun 1500 SM, seperti yang ditulis oleh max muller dan pernyataa malangnya akan adanya ras arya?
mengenai keagungan tuhan. Di setiap ulasan agama2 yang ada saya melihat bahwa TUHAN MAHA PENGASIH dan PeNYAYANG. Yang berbeda adalah ada tidaknya tulisan: BAGI UMATNYA (saya ragu apakah tambahan kata ini adalah tambahan manusia yang fanatik sempit pada ajaran agamanya atau memang tersurat demikian). Di Hindu sendiri (melihat dari hakikat SANATANA DHARMA, bukan ritualnya), TUHAN MAHA PENGASIH DAN PENYAYANG bagi semua ciptaannya untuk itu pula HINDU mengenal rasa cinta kasih tdk hanya bagi sesama manusia namun juga dengan TUHAN dan MAkhLUK REndah lainnya. Karena HINDU mengenal kehidupan yang selaras dalam aliran KARMA. Jika kau berbuat baik pada org lain maka org lainpun akan baik padamu. Mungkin pengertian sederhana dari karma ini ada di ajaran agama lain namun dengan nama yang berbeda.
memahami semua ajaran agama lebih tepat jika saya katakan harus memiliki jiwa seni yang tinggi sebab makna sejati yang tersirat dalam kitab suci (kecuali HINDU: Pustaka Suci) sebenarnya tersembunyi dalam keindahan kata2 yang digunakan (ingat perbandingan sastra lama dgn sastra baru dimana sastra lama bahasanya klise). Apakah kitab suci bisa dikatakan sastra? jelas ya sebab dia berupa rangkaian kata yang mungkin paling bermakna.
(sebagai perbandingan) Kembali melihat hakekat pandangan HIndu dalam SANATANA DHARMA, saya berpendapat bahwa agama-agama yang ada di dunia ini ibarat sungai dan tuhan itu samudra luas. di dunia ini tidak hanya ada satu sungai, tapi banyak dan kebanyakan tdk berhubungan sama sekali, bergerak di alur masing2. Toh pada akhirnya mereka mengalir ke samudra/ lautan yang sama (coba lihat di globe sebenarnya lautan/ samudra itu hanya ada satu, daerah berwarna biru di luar daratan yang saling berhubungan)
agama boleh berbeda-beda namun yang kita sebut TUHAN sebenarnya satu, universal, SANG PENCIPTA. Coba saja anda berpikir logis, jika tuhan berbeda-beda tentu rupa/ciptaannya berbeda2. Bisa saja saya sangat jauh berbeda dari anda, misalna bermata empat bertangan 1 telinga lebar dll. tapi kenyataannya kita semua dalam bentuk dasar yang sama bukan?
kembali pada HIndu yang menyembah patung. Memang Hindu ada patung (di Bali disebut arca) yang tujuannya lebih membantu manusia mendekatkan diri pada PENCIPTA bukan menyembah patung. Karena Tuhan di Hindu itu Acintya, tdk terdefinisikan berwujud seperti apa. Hindu g bisa asal-asalan menyebut “ouh… PENCIPTA itu laki-laki” “ouh.. PENCIPTA itu perempuan” “ouh… PENCIPTA itu waria” karena memang PENCIPTA itu sungguh misteri. Pernahkan kau melihat tuhan sehingga bisa menentukan tuhan itu berwujud apa?
Ulasan kembali ke Hindu, seperti yang ditulis saudara gunawanzz: “Namun di sisi lain, saya merasa bahwa suatu ajaran yang anti kekerasan mutlak tampak terlalu ideal”. Memang kelihatan sangat terlalu ideal. Di simak lagi, Hindu mengenal ajaran karma (sebab akibat). sebab baik berakibat yang baik pula, begitu sebaliknya. Apakah Hindu tidak boleh melawan? menurut pikiran saya Boleh! Namun dengan cara yang lebih beradab, berpendidikan (untuk apa punya akal), hati nurani, menimbang baik dan buruk. Seperti Bom Bali, jika yang mebom adalah org HINDU dengan dalih agama di tempat yang lain, saya yakin org HINDU di dunia akan mencela perbuatan itu sebab Hindu mengajarkan cinta kasih kepada semua makhluk, bukan golongan tertentu. Jika ada org yg seperti itu, contohnya amrozy cz, saya pikir islam bukan mengajarkan demikian, tapi orgnya lah yang salah mengartikan (seperti yang telah saya katakan, membaca kitab suci itu perlu seni).
Bila ada yang mengatakan bahwa karena suatu kemalangan, Hindu disebut agama (walupun secara implisit), saya akui, pemahaman Hindu saya lebih cenderung Hindu sebagai way of life. Pustaka Weda sebagai dasar Hindu tidak hanya memuat apa yang baik dan apa yang buruk namun juga ttg ritual, dsb. Kitab2 diluar weda pun banyak mengulas hel kehidupan misalnya sumbangan Hindu dalam dunia kedokteran: Ayurweda/Ayurvedic dan Yoga (yang menurut sebagian org bisa menyesatkan ajaran agama, tapi sebenarnya murni untuk kesehatan–yang ada bagian2 latihannya tanpa mantra dan nyaman bila ajaran lain mengikuti (jika takut mengucapkan mantra))
Tulisan saya ini bukan sebagai ajang Hindu sebagai agama yang paling benar. Tidak! sebab Hindu tdk membenarkan pengakuan itu. Tulisan ini lebih cenderung pada sanggahan saya pihak-pihak yang menjelek-jelekkan Hindu.
TERAKHIR: kita semua berkutat pada agama. Satu pertanyaan saya:
“APAKAH SEORANG ATHEIS YANG BAIK BUDI BISA MASUK SORGA?” JIKA TIDAK, SEBERAPA KUASAKAH KITA MENJUGDE SEORANG ITU TIDAK MAMPU MENUJU SORGA?
*pengertian sorga secara umum dari semua agama: tempat indah penuh kebahagiaan dan kedamaian selepas kita mati (koreksi saya jika definisi sorga itu secara garis besar bukan tempat Kedamaian)
*atheis setau saya adalah bentuk pencapan pada seseorang yang tdk mempercayai keberadaan TUHAN
Agustus 28, 2009 pukul 1:55 am |
Sebenarnya semua agama adalah histori sama dengan kebudayaan bahasa dll, semua tempat dimuka bumi punya histori sendiri2 europe timteng asia dll, semua berlomba2 untuk mencari pengikut contoh yang mudah adalah hurup2 latin A sampai Z yang kita gunakan sekarang adalah hasil influenz orang2 latin yang menyebarkan hurupnya keseluruh dunia..agama kristiani known pertama kali dibawa ketanah air oleh orang portugis, islam dibawa pertama kali oleh pedagang2 india yang berjualan ditanah air, intinya saling influenz (mempengaruhi) sudah ada sejak dahulu kala dan tidak akan pernah berhenti
Yang paling baik menurut saya (maaf hanya pandangan) kita terima sesuatu yang baik menurut kita dan tolak yang menurut kita kurang baik, karena baik dan buruk sebenarnya variable yang mudah dipisahkan dengan nalar, yang susah adalah ego kita sendiri yang menganggap kita lebih baik dari yang lain, terima kasih.
Agustus 28, 2009 pukul 8:48 am |
Menurut saya tidak penting mendiskusikan soal posisi agama2, mana yang benar atau kurang benar. Saling menghormati…itulah yang penting…
Jika saling tuduh siapa yang pernah melakukan kekerasan……….
Semua umat baik Hindu, Kristen, Islam, Yahudi, orang2 Pagan…..semuanya PERNAH……lihatlah bagimana perang telah mewarnai sejarah dunia dari jaman Nebukanezar Babylonia ……bahkan hingga sekarang.Siapakah……yang SALAh…..MANUSIA….bukAN AGAMAnya’
Silahkan saja….mau tetap ATHEIS, KRISTEN, YAHUDI, ISLAM, BUDHA, HINDU, dll, ……namun tetap saling menghargai.
Namun demikian sejarah umat ini pasti akan menuju sebuah PERANG BESAR antara yang haq dan yang bathil (yang takkan terhindarkan karena ulah manusia juga)…..Silahkan setiap penganut agama punya keyakinannya sendiri2……karena nanti toh setiap orang akan bertanggungjawab sendiri2 terhadap amal dan perbuatannya.
September 10, 2009 pukul 4:05 am |
saya setuju bahwa dalam soal agama ini memang kita harus kritis. apalagi sampai sekarang tak ada satupun manusia didunia ini yang bisa membuktikan bahwa semua kitab suci memang asal usulnya dari Tuhan. semua kan hanya klaim. siapa yang melihat muhammad pernah bicara langsung sama tuhan? atau yang melihat yesus dan musa langsung bicara dengan tuhan? atau yang melihat para nabi itu berbincang-bincang dengan malaikat jibril atau siapapun yang katanya adalah ”calo”-nya Tuhan untuk menyampaikan wahyu kepada manusia? Terus, mengapa pula ada klaim bahwa tuhan tidak menurunkan wahyu lagi kepada manusia? apakah tuhan sudah mati?
September 23, 2009 pukul 10:24 am |
@blukuthuk .Anda menulis bahwa Sang penulis ternyata punya kebencian yang melebihi kebencian orang yang beragama.Saya beragama Hindu.. coba deh baca baik2 artikel itu..bukankah artikel itu adalah bentuk jawaban dari klaim sepihak yg ditulis oleh oknum2 agama anda ? kalau sekarang yg menulis artikel ini menyanggah plus plus memaparkan kelemahan agama anda ,anda sendiri marah..saran saya anda mawas diri dulu.
Tidak terhitung tulisan2,cerita2,acara2 di TV,kotbah para ulama yang langsung atau tidak langsung menjelek2kan agama Hindu.Terus komentar anda mengenai itu gmn ? jadi sebaiknya anda harus introspeksi diri dulu deh.Ibaratnya anda koar2 bilang orang lain pencuri trus orang lain balik bilang anda perampok anda marah…
September 24, 2009 pukul 8:35 am |
Ngomentari plus menjelek-jelekkan agama orang menggebu2.Giliran agamanya di komentari??? sifat aslinya keluar…kacian deh lo.
Oktober 9, 2009 pukul 6:50 am |
Orang yang berADAB…tdk akan pernah mencela siapapun terlebih Agama …berbeda pendapat itu syah2x saja .Saya sangat percaya …TIDAK ADA AGAMA yng mengajarkan KEKERASAN dan KEBENCIAN ….hanya manusia2xnya saja yg terkadang SALAH MENGARTIKAN .MANUSIA itu diciptakan dengan AKAL ….akal yg dapt memilah yang baik dan buruk …bukan sekedar CAngkang tengkorak saja .
Segala yang terjadi di muka bumi ini MUSIBAH …BENCANA ….PEPERANGAN ….KEBENCIAN antar agama …..adalah semua PERBUATAN MANUSIA yg TDK mempunyai AKAL ….dan Iman …..BUKAN AGAMA yang dianutnya !!!!!!!!!!!!
Oktober 9, 2009 pukul 8:55 am |
Kita saling berbantahan laksana sekelompok orang buta yang bertengkar memperdebatkan bentuk sebuah benda yang teramat besar. Namun apapun yang mereka kemukakan tidak akan pernah benar sepenuhnya karena masing-masing hanya berpegang pada kesan yang mereka peroleh dari tempat mereka yang berbeda-beda. Hal demikian karena kapasitas mereka sangatlah terbatas untuk menggambarkan bentuk benda besar (akhbar) itu secara utuh. Bentuk itu akan lebih komplet kalau mereka bekerja sama yang didasari cinta sesama, saling membutuhkan, saling melengkapi dan menyempurnakan. Barang siapa bisa mencintai dia akan layak dicintai, kita butuh orang lain yang membutuhkan kita, barangsiapa merendahkan orang lain maka sesungguhnya orang itu masih berpribadi rendah (sombong). Setelah seseorang menganut agama tertentu ternyata kebanyakan menjadikan mereka sombong dan merasa paling benar. Kita itu masuk ke dunia laksana tembikar yang jatuh dan pecah, gambaran keesaan Tuhan hanyalah bisa dicapai kalau umat manusia bersatu dalam persaudaraan abadi yang penuh cinta dan belas kasih.
Oktober 11, 2009 pukul 2:21 pm |
Semua penganut agama apapun yang penting aplikasinya terhadap sesama mahkluk Tuhan didunia,apakah mereka2 itu telah berbuat baik atau malah memusuhinya,ingatlah manusia tidak bisa hidup tanpa manusia lain,maka dari itu berbaik-baiklah terhadap manusia lain,meski harus berbeda agama atau kepercayaan,salam sejahtera untuk semuanya